Rabu, 07 Juni 2017

Jika Ustadz Jadi Wasit

Di suatu pagi, di hari raya pekanan umat Muslim, yaitu hari jum’at, saya dan teman-teman saya berkumpul di sebuah lapangan besar di belakang kampus. Tidak lain dan tidak bukan, kami berkumpul untuk bertanding sepak bola melawan kelas I’dad Lughawy A (program persiapan bahasa prakuliah). Liga kampus tahun ini baru bergulir kemarin pagi. Seperti biasa, saya ditunjuk oleh Heru Fransisco, penyerang handal asal Padang, untuk menjadi goalkeeper alias penjaga gawang. Sang wasit, Muhajir Ali, yang ditemani dua hakim garis memberi isyarat tanda kick off dimulai. Akhirnya, pertandingan 2×30 menit itu pun dimulai..
Di sela-sela pertandingan, beberapa teman kami yang sedang menunggu giliran tampil sedang mengobrol di kiri gawang. Aku pun ikut nimbrung tanpa basa-basi. Pembicaraannya unik, kami membayangkan bagaimana jika seorang faqih jadi wasit. Tidak hanya itu, dia menerapkan pengetahuan fiqihnya dalam peraturan sepak bola. Sehingga akan banyak diskusi dan perdebatan antar pemain maupun wasit dalam berbagai masalah di dalam pertandingan tersebut.
Obrolan ringan yang dipimpin Hidayatullah, teman sesama wong kito, dan Irfan Hariyanto, orang Jambi yang merantau ke Jawa tersebut memberikan saya sedikit inspirasi untuk membuat artikel ini. Namun saya tidak akan memaparkan perdebatan panjang yang dibahas ulama fiqih seperti apakah lutut laki-laki adalah aurat, dan permasalahan polemik lainnya. Saya hanya akan sedikit menyinggung pelanggaran-pelanggaran syar’i yang banyak terjadi dalam sebuah pertandingan sepak bola dengan permisalan-permisalan berupa dialog antar wasit dan selainnya.
***
Jika ustadz jadi wasit, maka sebelum pertandingan, sang ustadz memberikan kultum (kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit) di hadapan para pemain dan para suporter kedua kesebelasan,
Wasit : “Saudara, semoga Allah senantiasa menjaga kalian. Izinkan sejenak saya sebagai wasit memberikan sedikit wejangan kepada kalian. Dekatkanlah selalu diri kalian kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jagalah lisan kalian dari saling mencela, suporter mencela suporter, suporter mencela pemain, pemain mencela pemain, pemain mencela wasit. Karena siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga baginya. Subhanallah! Bukankah surga adalah cita-cita kita bersama?”
*Para pemain dan para penonton mengangguk takzim.
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seseorang hendak menyogoknya,
Wasit   : “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!”
Fulan    : “Bukankah ini suatu perbuatan tolong menolong?”
Wasit    : “Dengarkan! Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”  [QS. Al-Maidah: 2]
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain marah-marah karena gagal mencetak gol,
Wasit    : “Janganlah engkau marah karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Orang yang kuat bukanlah dia yang mampu mengalahkan musuh. Namun orang yang kuat adalah dia yang mampu menahan marah ketika dia bisa melampiaskannya. Jika engkau marah, maka berta’awwudz-lah (mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy syaithanir rajiim). Dan jika suatu hal yang tidak engkau sukai menimpamu, maka katakanlah, “Qoddarullahu wama sya-a fa-’al (artinya: Allah sudah mentakdirkan segala sesuatu dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki).”
Pemain : “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).Terima kasih, wasit. Sekarang hatiku lebih tenang dan siap untuk mencetak gol!”
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain hendak minum,
Wasit    : “Sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan kepada-Nya. Minumlah dengan tangan kanan karena setan minum dengan tangan kiri. Janganlah boros, karena orang yang boros adalah saudara setan. Hendaklah kamu minum dalam keadaan duduk dan pujilah Allah atas nikmat yang telah Dia berikan untukmu.”
Pemain : “Bismillah. Gluk..gluk.. Alhamdulillah. Thanks, sit. Sekarang dahaga gue udah hilang.Gue akan bermain lebih semangat lagi.”
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika dua orang pemain bersitegang dan terlibat adu mulut,
Wasit                      : “Tenang, tenang. Janganlah berkelahi. Bukankah mukmin itu bersaudara? Sudah selayaknya bagi seorang muslim jika melakukan suatu kesalahan kepada saudaranya untuk meminta maaf. Dan hendaknya seorang muslim memaafkan kesalahan saudaranya.”
Pemain A             : “Maafkan saya, kawan. Saya tadi tidak sengaja menyikutmu.”
Pemain B             : “Ia, maafkan saya juga. Saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.”
*Bejabat tangan lalu berpelukan
Wasit                      : “Indah, bukan? Jika suatu ikatan dilandasi syari’at Islam yang begitu mulia.”
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain ketahuan melakukan diving dengan sengaja,
Wasit    : “Saudara, janganlah Anda berpura-pura terjatuh untuk mendapatkan keuntungan bagi tim Anda dan merugikan tim lawan. Hal itu tidak lain adalah dusta dan itu tercela. Bermainlah secara sportif, karena itu lebih dekat kepada takwa. Kejujuran adalah jalan menuju surga sedangkan dusta adalah jalan menuju neraka.”
Pemain : “Maafkan saya, sit. Saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali.”
Jika ustadz jadi wasit, maka ketika pertandingan telah usai,
Priiit, priiit, priiit
*Peluit tanda pertandingan telah berakhir terdengar
Wasit    : “Terima kasih kepada kedua tim yang telah menunjukkan performa terbaik sebagai seorang muslim dalam permainannya hari ini. Semoga dengan olahraga ini, fisik kita semua semakin bugar. Sehingga kita semakin kuat menjalankan perintah-perintah Allah. Kepada tim yang kalah, diharapkan pekan depan menyetor 5 buah hapalan hadis dari kitab Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dan agar dosa dan kesalahan yang terjadi di dalam pertemuan kita kali ini dihapuskan oleh Allah, maka hendaknya kita membaca doa Kaffaratul Majlis: Subhaanakallaahumma Wabihamdika Asyhadu allaa Ilaaha illa Anta Astaghfiruka wa Atuubu Ilaika.”

Pandangan Islam atas Teologi Paskah

Paskah adalah perayaan umat Kristen seluruh dunia yang memperingati kewafatan dan kebangkitan Yesus Kristus - sebuah peristiwa yang mereka yakini sebagai sarana keselamatan mereka.
Islam tidak mengenal paskah, tetapi Islam meyakini akan kebenaran Yesus sebagai utusan Allah (nabi) yang benar, yang diutus oleh Allah taala kepada suku Bani Israel. Bahkan Islam mengajarkan untuk meyakini Nabi Isa dan kitabnya. Allah taala berfirman:


Ketika berkata malaikat-malaikat, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah swt. memberi engkau kabar suka dengan  satu kalimat dari-Nya tentang seorang anak laki-laki; namanya Al-Masih sa Ibnu Maryam, yang dimuliakan di dunia dan di akhirat, dan ia adalah dari antara orang-orang dekat kepada Allah swt.. (Ali Imran: 45)

Yesus, islam, paskah
Tetapi pemahaman Islam berbeda terhadap apa yang diyakini oleh Kristen saat ini. Islam, tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah secara literal, melainkan hanya sebagai Anak Tuhan secara metaforik yang mencerminkan kualitas kesalehan.

Pada Paskah, umat Islam juga tidak setuju tentang tujuan dan hasil dari penyaliban, bahwa Yesus wafat di tiang salib dan dibangkitkan untuk menebus dosa-dosa manusia. Islam menyajikan perspektif yang berbeda.

Yang pertama adalah dalam tujuan penyaliban. Dalam kepercayaan Kristen, tujuan penyaliban adalah untuk menebus dosa-dosa manusia, sedangkan Islam meyakini bahwa tujuan penyaliban adalah sebagai bentuk kebenaran tanda kebesaran Tuhan. Bahwa dengan selamatnya Yesus dari penyaliban akan memperkuat keimanan kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Keyakinan ini didukung oleh nubuatan Yesus sendiri:

Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. (Matius 12:40)

Muslim meyakini bahwa penyaliban itu bukan tentang kebangkitan dari kematian (revival) melainkan selamat dari kematian (survival).

Dengan demikian, hal kedua dari perbedaan ini adalah, sebagai seorang utusan Tuhan yang benar, Yesus tidak mungkin dibunuh di kayu salib oleh para musuhnya. Umat Islam meyakini kematian di tiang salib adalah kematian terkutuk menurut Alkitab (Ulangan 21:23). Islam percaya bahwa Yesus menyamakan dirinya dengan Yunus, bahwa sebagaimana Yunus selamat dalam perut ikan, maka begitu juga Yesus  juga selamat dari penyaliban.

Al-Qur'an menegaskan pandangan ini dengan menyatakan bahwa Yesus diselamatkan dari kematian dan dilindungi oleh Allah taala:

Dan ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah swt.,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib, akan tetapi ia disamarkan kepada mereka. Dan, sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini; mereka tidak mumpunyai pengetahuan yang pasti  tentang ini melainkan menuruti dugaan; dan mereka  tidak membunuhnya  dengan yakin. (Annisa: 157)

Kami  meyakini bahwa Yesus, menghadapi segala rintangan, dan selamat dari cobaan di tiang salib karena keajaiban besar dari Allah taala, sehingga hal itu memenuhi nubuatannya tentang Yunus. Upaya para lawan dengan penyaliban sama sekali gagal dan misi Yesus berlanjut dengan sukses, meskipun ada upaya-upaya penganiayaan untuk mengalahkan Yesus.

Tetapi sementara Kristen dan Muslim mungkin tidak sependapat pada rincian Paskah, terdapat juga kesamaan dalam keyakinan kita. Yaitu Allah taala secara khusus telah mengutus Yesus, Almasih sebagai saksi kebenaran Allah. Terlepas dari perbedaan kita, umat Islam menghormati saudara-saudara Kristen dalam merayakan Paskah, dan merasakan kecintaan yang sama terhadap Nabi Isa ibnu Maryam.